Notification

×

Iklan

Iklan

Menyusuri Jejak Para Tuan Guru, KKN UINSU 2026 Kelurahan Pelawi Utara Gelar Perjalanan Religi ke Besilam

Senin, 24 Agustus 2026 | 20:01 WIB Last Updated 2026-09-23T15:50:03Z


RuangSikap – Langkat – Sebanyak 25 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UINSU 2026 bersama 4 jemaah ibu-ibu perwiritan melakukan perjalanan religi ke Kampung Babussalam atau yang lebih dikenal dengan Besilam, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada 24 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian KKN UINSU 2026 di Kelurahan Pelawi Utara, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat, tepatnya di Gg. Datuk, Lingkungan 5. Perjalanan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa dan masyarakat untuk mengenal lebih dekat sejarah keagamaan Besilam, berziarah ke makam para Tuan Guru, serta memperoleh nasihat dan nilai-nilai kehidupan melalui pertemuan dengan tokoh agama.

Kampung Babussalam atau Besilam merupakan salah satu tempat yang memiliki sejarah penting dalam perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah di Sumatera Utara. Besilam berkaitan erat dengan sosok Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi an-Naqsyabandi, yang dikenal sebagai pendiri Kampung Besilam sekaligus mursyid pertama.

Syekh Abdul Wahab Rokan lahir di Riau pada tahun 1811 dan wafat pada tahun 1926. Sementara itu, nama Besilam dikenal memiliki makna “pintu kesejahteraan”.

Dengan menggunakan bus mini, rombongan berangkat menuju Besilam. Setibanya di lokasi, peserta melakukan silaturahmi dengan Tuan Guru Besilam, Syekh Dr. H. Zikmal Fuad, MA.

Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa KKN UINSU diperkenalkan kepada Tuan Guru dan mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi serta meminta nasihat rohani. Pertemuan semakin bermakna ketika Tuan Guru menceritakan kisah dan sejarah para Tuan Guru di Besilam, khususnya perjalanan Syekh Abdul Wahab Rokan.

Cerita tersebut memberikan gambaran mengenai perjuangan dan peninggalan para Tuan Guru yang hingga kini masih memberikan pengaruh bagi kehidupan masyarakat di Besilam.

Salah satu pesan yang menarik perhatian peserta adalah ungkapan bahwa “orang mati bisa menghidupkan orang yang hidup”. Ungkapan tersebut tidak berarti secara harfiah, tetapi menggambarkan bagaimana seseorang yang telah wafat tetap dapat memberikan manfaat melalui perjuangan, sejarah, dan peninggalannya.

Hal itu dapat dilihat dari kehidupan masyarakat di Besilam hingga saat ini. Para Tuan Guru yang telah wafat meninggalkan sejarah dan tempat yang terus dikunjungi masyarakat untuk berziarah. Kehadiran para peziarah juga turut menghidupkan aktivitas masyarakat sekitar, seperti kegiatan jual beli dan usaha kecil yang mendukung kebutuhan para pengunjung.

Setelah bersilaturahmi dan mendengarkan kisah sejarah, rombongan melanjutkan kegiatan dengan berziarah ke makam para Tuan Guru. Makam yang diziarahi antara lain Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi an-Naqsyabandi sebagai pendiri dan mursyid pertama, Syekh H. Yahya Afandi bin Syekh Abdul Wahab Rokan sebagai Tuan Guru II, Syekh Abdul Manaf sebagai Tuan Guru III, Syekh Abdul Jabbar sebagai Tuan Guru IV, serta Syekh Muhammad Daud sebagai Tuan Guru V.


Selain mengenang para Tuan Guru, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya menjaga kawasan Besilam. Lingkungan dan tanah di kawasan tersebut dijaga agar tetap bersih dan tidak dikotori. Pengunjung juga diharapkan menghormati suasana religius dengan mengenakan busana muslim serta menjaga kesopanan selama berada di kawasan tersebut.

Perjalanan ke Besilam bukan sekadar jalan-jalan atau ziarah, tetapi menjadi ruang untuk belajar sejarah, mempererat silaturahmi, mendengarkan nasihat rohani, dan mengambil hikmah dari perjuangan para Tuan Guru.

Kebersamaan 25 mahasiswa KKN UINSU bersama 4 jemaah ibu-ibu perwiritan dalam perjalanan religi tersebut menjadi pengalaman yang tidak hanya memperkaya pengetahuan keagamaan, tetapi juga memperkuat hubungan antara mahasiswa KKN dan masyarakat. (N)



(Red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update