Notification

×

Iklan

Iklan

Remaja Putri Menangis Histeris Datangi Mesjid Rahayu, Warga dan Aparat Lingkungan Lakukan Penanganan

Rabu, 05 Agustus 2026 | 08:40 WIB Last Updated 2026-08-05T04:21:22Z
Foto lokasi peristiwa di mesjid rahayu, jl. pukat banting 1


RuangSikap –  Medan –
Suasana pagi di sekitar Mesjid Rahayu, Jalan Pukat Banting I, Kelurahan Bantan, Kecamatan Medan Tembung, mendadak berubah menjadi ramai pada Rabu (5/8/2026) sekitar mulai pukul 06.30 WIB. Seorang remaja putri berusia 17 tahun berlari menuju mesjid sambil menangis histeris sehingga mengundang perhatian warga yang berada di sekitar lokasi.


Berdasarkan pantauan wartawan di lokasi, remaja tersebut datang dalam kondisi panik dan sulit menenangkan diri. Kepada pengurus mesjid dan sejumlah warga, ia mengaku mengalami kekerasan yang diduga dilakukan oleh kakak tirinya.


Dari informasi yang dihimpun di lokasi, remaja tersebut diketahui tinggal bersama orang tuanya di salah satu kawasan di Kota Medan. Pagi itu, ia berada di kediaman kakak tirinya di kawasan Jalan Pukat Banting I. Belum diketahui secara pasti apa yang terjadi sebelum akhirnya remaja tersebut berlari keluar rumah dan menuju Mesjid Rahayu.


Melihat kondisi tersebut, pengurus Mesjid Rahayu segera membawa remaja itu masuk ke dalam mesjid untuk diamankan sekaligus menenangkan kondisi emosionalnya. Kepala Lingkungan setempat kemudian dihubungi agar turut membantu penanganan persoalan tersebut.


Tidak lama berselang, kakak tiri remaja itu datang ke lokasi dan dimintai keterangan oleh pengurus mesjid bersama aparat lingkungan. Dalam keterangannya, ia membantah telah melakukan pemukulan. Ia mengaku hanya memberikan nasihat kepada adiknya dan menyebut telah menganggap remaja tersebut seperti adik kandungnya sendiri.


Sementara itu, kondisi remaja tersebut masih tampak syok. Ia terus menangis sambil memegang tasbih dan berzikir. Sejumlah warga yang mengetahui kejadian itu berdatangan ke Mesjid Rahayu sehingga lokasi sempat dipenuhi masyarakat yang ingin mengetahui peristiwa tersebut.


Beberapa saat kemudian, dua orang laki-laki yang mengaku sebagai kerabat remaja tersebut datang menggunakan sepeda motor. Mereka sempat berdialog dengan pengurus mesjid, aparat lingkungan, dan pihak keluarga. Namun, pembicaraan tersebut belum membuahkan kesepakatan.


Dengan mempertimbangkan kondisi psikologis remaja yang masih belum stabil, pengurus mesjid bersama Kepala Lingkungan memutuskan bahwa remaja tersebut hanya dapat meninggalkan lokasi apabila dijemput langsung oleh orang tua kandungnya. Keputusan itu diambil sebagai langkah kehati-hatian demi memastikan keselamatan serta kenyamanan remaja tersebut.


Selama menunggu kedatangan orang tuanya, remaja tersebut tetap berada di dalam mesjid dengan didampingi pengurus mesjid dan sejumlah warga.


Tidak lama kemudian, dua orang laki-laki lainnya datang dan mengaku sebagai keluarga dari pihak ibu remaja tersebut. Mereka kembali berusaha membujuk agar remaja itu bersedia pulang. Namun, remaja tersebut masih menolak.


Di tengah proses mediasi, Lurah Bantan turut hadir untuk membantu menenangkan situasi hingga dialog antara keluarga, warga , pengurus mesjid serta aparat lingkungan.


Suasana sempat memanas ketika remaja tersebut berjalan menjauh dari lokasi dan berusaha dicegah oleh pihak keluarga. Peristiwa itu kembali menjadi perhatian warga yang sejak pagi mengikuti perkembangan situasi. Remaja tersebut kembali menangis sambil terus memegang tasbih dan berzikir.


Di tengah keramaian, terdengar salah seorang warga menyampaikan dugaan bahwa kondisi remaja tersebut berkaitan dengan hal-hal gaib. Namun, dugaan tersebut merupakan pendapat pribadi dan belum dapat dipastikan kebenarannya.


Tidak lama kemudian, ibu kandung remaja tersebut tiba di Mesjid Rahayu. Suasana haru pun tak terhindarkan. Sang ibu langsung memeluk putrinya yang masih menangis sebelum bersama-sama masuk ke dalam mesjid untuk menenangkan kondisi emosionalnya.

Foto halaman mesjid rahayu


Dalam kesempatan itu, Lurah Bantan menyarankan agar pihak keluarga segera membawa remaja tersebut ke fasilitas pelayanan kesehatan, seperti puskesmas atau rumah sakit, guna memastikan kondisi fisik maupun psikologisnya.


Setelah dilakukan dialog singkat antara keluarga, pengurus mesjid, Kepala Lingkungan, dan Lurah Bantan, akhirnya disepakati bahwa remaja tersebut dipulangkan bersama ibu kandungnya menggunakan becak bermotor.


Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti yang memicu remaja tersebut berlari menuju Mesjid Rahayu belum diketahui secara pasti. Pengakuan remaja yang menyebut dirinya mengalami kekerasan masih berbeda dengan keterangan kakak tirinya yang membantah melakukan pemukulan dan menyatakan hanya memberikan nasihat. Sementara itu, dugaan yang sempat disampaikan oleh salah seorang warga mengenai adanya pengaruh hal gaib juga belum dapat dibuktikan dan tidak dapat dijadikan sebagai fakta. Penanganan selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatan dan psikologis remaja tersebut. (A)


(Red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update